TANGSEL – Suara benturan pukulan, gerakan menghindar, hingga adu teknik dalam sesi latihan tanding menjadi bagian dari rutinitas Bambang Priyambodo menjelang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) VII Banten 2026.
Di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa, atlet karate asal Tangerang Selatan (Tangsel) ini tetap disiplin menjalani latihan demi satu tujuan, yakni mempersembahkan medali emas untuk daerahnya.
Bagi pria yang akrab disapa Bambang ini, karate bukan sekadar olahraga untuk meraih prestasi. Lebih dari itu, karate menjadi perjalanan panjang untuk terus belajar, mengasah kemampuan, sekaligus membekali diri dengan keterampilan bela diri.
Setelah bertahun-tahun menekuni olahraga tersebut, kini ia mendapat kesempatan untuk membuktikan hasil kerja kerasnya melalui nomor kumite perorangan kelas 75 kilogram putra.
"Saya dari kelas 6 SD sudah menekuni karate dan sekarang mewakili Tangerang Selatan dalam ajang Porprov VII Banten 2026 ini di nomor kumite perorangan kelas 75 kilogram putra," ujarnya saat ditemui di arena latihan, Rabu (4/11/2026).
Bambang menceritakan, persiapannya menghadapi Porprov VII Banten 2026 telah dimulai sejak Juli lalu. Program latihan dijalani secara bertahap, mulai dari penguatan fisik hingga pematangan teknik bertanding.
Pada Juli hingga September, latihan lebih banyak difokuskan pada peningkatan kondisi fisik. Memasuki Oktober hingga menjelang pertandingan, program mulai diarahkan pada penguasaan materi, pemantapan teknik, serta latihan tanding atau sparing.
"Awalnya dari Juli, Agustus, September itu kita latihan fisik. Kemudian Oktober sampai sekarang sudah masuk ke materi, teknik, dan sparing-sparing," ujar Bambang.
Namun, perjuangan Bambang tidak hanya berlangsung di atas matras. Ada tantangan lain yang harus dihadapinya, yakni membagi waktu antara kewajiban sebagai mahasiswa dan jadwal latihan yang cukup padat.
Hampir setiap hari, ia memulai aktivitas sejak pagi dengan mengikuti latihan yang berlangsung sekitar pukul 05.30 hingga 08.00 WIB. Setelah itu, aktivitas perkuliahan dan berbagai kesibukan lainnya menanti hingga sore hari. Pada malam harinya, ia kembali menjalani latihan untuk menjaga kondisi sekaligus mematangkan persiapan sebagai atlet.
Baginya, bangun pagi menjadi salah satu tantangan tersendiri. Belum lagi urusan perkuliahan, terutama ketika harus menyesuaikan jadwal latihan dengan izin mengikuti kelas yang bergantung pada kebijakan dosen.
"Latihan pagi dan malam itu tantangannya tentu bangun pagi. Kemudian ada juga izin kelas yang terkadang tergantung dosen. Siangnya kita tetap harus beraktivitas sampai sore, lalu malam latihan lagi. Cara mengatasinya ya dari semangat diri sendiri," tuturnya.
Di tengah rutinitas yang padat, Bambang menyadari bahwa persiapan menuju pertandingan tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan teknik. Kondisi fisik harus tetap prima agar mampu menghadapi intensitas pertandingan yang tinggi.
Selain itu, latihan tanding juga menjadi perhatian khusus. Baginya, kemampuan membaca pergerakan lawan, menentukan jarak serangan, serta menemukan momentum yang tepat merupakan aspek penting dalam pertandingan kumite.
Dalam karate, kecepatan dan ketepatan mengambil keputusan kerap menjadi penentu. Atlet tidak hanya dituntut mampu melancarkan serangan, tetapi juga harus cermat membaca peluang dan mengantisipasi gerakan lawan.
Berbekal pengalaman berlatih selama bertahun-tahun dan persiapan yang terus dimatangkan, Bambang memasang target tinggi pada Porprov VII Banten 2026. Ia ingin berdiri di podium tertinggi dan membawa pulang medali emas untuk Kota Tangerang Selatan.
Target tersebut bukan sekadar ambisi pribadi. Dukungan keluarga, khususnya sang ibu, menjadi sumber motivasi terbesarnya. Selain itu, ia ingin memberikan kebanggaan kepada dojo Tiger Karate yang selama ini menjadi tempatnya menempa kemampuan, serta masyarakat Kota Tangerang Selatan.
"Motivasi terbesar saya yang pertama orang tua, terutama mama. Saya ingin memberikan medali emas. Kemudian untuk dojo saya, Tiger Karate, dan tentunya Kota Tangerang Selatan," ucapnya.
Bambang berharap seluruh persiapan yang telah dijalani dapat membuahkan hasil terbaik. Baginya, medali emas bukan hanya menjadi pembuktian atas kemampuan dirinya sebagai atlet karate, tetapi juga bentuk apresiasi atas dukungan orang-orang yang selama ini berada di balik perjuangannya.